Duel goblog….
Akasia, akhir Oktober 2007

“woy, engken ci?!!”
Seorang pemuda berkulit gelap, kekar, bermuka garang, merapatkan motornya ke motorku. Sambil melotot dia mengacung-acungkan tinjunya. Temannya (Pemuda II) yang duduk di boncengan ikut-ikutan jejeritan ga jelas, yang ini badannya lebih gede dari yang bawa motor (Pemuda I).

Sial cuma gara-gara aku nengok ke arah mereka waktu mereka menekan tombol klakson-nya keras-keras di belakangku mereka nguber mau buat perhitungan. Padahal aku nengok ke arah mereka cuma mau ngeliat, kupikir, siapa sih ini yang nglakson kuenceng bener? Waktu itu posisi motor yang aku dan Pacul kendarai berada di pertigaan Jl. Akasia, pertigaan yang selalu semrawut di jam-jam berangkat dan pulang kantor. Posisi kita nggak salah, menghalangi jalan mereka juga tidak. Setidaknya menurutku sih begitu…

Dhieeeeezzz!!! Satu pukulan dari pemuda I berhasil ditangkis Pacul yang kebetulan duduk di depan, mengakibatkan motor yang waktu itu berhenti di tengah jalan jatuh tergeletak. Aku loncat turun dari boncengan, berdiri dan tarik nafas… Bersiap, aku yang merka incar.

Perang mulut pun terjadi, satu yang aku tangkap dari bahasa Bali yang mereka ucapkan,“apa maksudmu mandangin aku tadi?” Aku balas, “apa salahnya aku nengok untuk liat siapa yang nglakson kenceng-kenceg di belakangku?” Pemuda I makin gak terima…. Duel yang dia mau! Pemuda II ngompor-ngomporin, tingkahnya seperti wasit tinju…

Satu kali serangan berhasil aku hindari, aku tangkis… Orang-orang mulai ramai berkerumun, Pacul berusaha melerai, jalanan mulai macet. Pemuda I tetap beringas…
Serangan kedua, aku terjatuh karena ada motor parkir menghalangi di belakangku waktu berusaha mundur menghindar… Satu uppercut masuk menyerempet tepian kanan bibirku, perih…

Aku berdiri, lepas alas kaki… Sekalian, pikirku!
Satu tendangan tepat di ulu hatinya, keras…
Pemuda I makin garang berusaha mengejarku, tertahan Pacul, jalanan makin macet…

Pemuda II membisikkan sesuatu pada Pemuda I, aku dengar….
“nah mai alih… (ayo kita panggil…)”
Pemudai I melotot dan menunjukan telunjuknya congkak ke arahku, “antiang ci dini nah, benyah ci nyanan…(tunggu kamu di sini, hancur kamu nanti)”.
“Naaaaaah….”, jawabku sembari mendongakkan kepala tak mau kalah.

Pemuda I dan Pemuda II menyalakan motornya, melaju dengan deru motor ke arah Timur.
Jalanan masih macet waktu aku mencari helm-ku yang terpental dari genggamanku tadi sewaktu serangan pertama. Penonton mulai ribut wara-wiri gak jelas.
Motor Pacul nyalakan kembali, aku dan Pacul ngeloyor pulang…
Aku nyengir, konyol pikirku…mau ngeroyok kok nyuruh nunggu?
orang-orang tengal….
cih!